Percakapan Singkat “Good Friday”

Standard

Saat Pendeta berdoa di mimbar, Ia datang kepadaku. Awan terbuka, aku disinari dan dialiri cahaya seperti air terjun emas bercampur permata, berkilauan. Aku membuka tanganku lebar-lebar, menutup mataku, menikmati kucuran cahaya surgawi.

Multi-Dimensional-Heaven.jpg

Tiba-tiba awan terbuka lebar, dan aku terangkat naik mendekati awan dengan cahaya amat sangat terang menyilaukan mata, bahkan pakai kacamata gerhana pun tidak dapat membantu. Sesosok laki-laki dengan jubah putih polos panjang, menjemputku di pintu awan. Ia memegang tanganku dan mengajakku masuk ke awan. Aku meminta maaf karena aku memilih untuk tidak memeluk agama apapun, tapi aku tetap percaya kepadaNya, lalu Ia memelukku.

Dihadapanku hamparan rumput, semak, Ia berkata, “Inilah awal dari kehidupan baru. Ikuti jalan setapak ini dan engkau akan melihat danau, air terjun surgawi”. Aku mengikuti jalan setapak itu, sampai pada danau dengan air terjun berkilauan putih jernih, dikiri kanannya terdapat tangga. Ia menuntunku naik kepuncak tangga menembus awan. Lalu aq melihat banyak orang telanjang, membersihkan dirinya masing-masing. Ia berkata, “Ditempat inilah orang-orang membersihkan dirinya masing-masing tanpa diliputi napsu sex”.

Lalu aku naik keawan diatasnya, ditempat ini aku melihat orang-orang sedang memakai baju jubah putih panjang.

Lalu aku naik keawan diatasnya lagi, aku melihat meja makan panjang dan orang-orang berbaju putih duduk disana. Sementara itu, di gereja, jemaat menyanyikan lagu puji-pujian, Ia berkata, “Lagu puji-pujian terdengar sampai disini dan kami mendengarkan-menikmatinya. Tidak pernah sepi dengan musik dan lagu-lagu pujian”. Lalu aku mau naik lagi keawan diatasnya yang masih tertutup awan gelap, tapi Ia berkata, “Tempatmu cukup sampai disini” dan kami turun ketempat pertama kali aku datang, hamparan rumput hijau.

Aku memeluknya erat. Lalu Ia menunjukkan tangannya kepadaku. Ia berkata, “Lihatlah bekas paku di kedua tanganKu. Ingatlah tanda ini. Tidak ada tanda lain selain bekas paku di kedua tanganKu”. Sesudah itu, Ia menyingsingkan sedikit samping jubahnya, dan Ia menunjukkan padaku luka bekas tusukan di lambungNya, “Ini adalah tanda lainnya, luka bekas tusukan di lambungKu”.

Ingatlah baik-baik tanda yang Kutunjukkan padamu dan Percayalah. Lalu aku berkata kepadanya, “Aku ingin tinggal disini, aku tidak mau kembali”, semakin erat aku memelukNya. Ia membukakan awan dibawahku, dan aku melihat kota dengan bangunan-bangunan kota tinggi berbagai bentuk, “Disanalah tempatmu. Kamu belum saatnya untuk berada disini”. Ia berkata, “Ingatlah dan Percayalah, bahwa Aku adalah jalan keselamatan dan hidup, barangsiapa Percaya akan Aku, maka Ia akan selamat”

Aku bertanya kepadaNya, “Haruskah aku mengambil roti dan anggur sebagai tanda persekutuanMu?”, Ia menjawabku, “Turuti kata hatimu. Tenangkan hati dan pikiranmu sejenak. Manusialah yang membuat cara-cara ini. Tidak apa-apa jika kamu mengambilnya. Lepaskanlah apa yang mejadi belenggu dalam hatimu, yang tidak boleh kamu lakukan adalah Membunuh. Karena membunuh itu dosa awal manusia”. Lalu ia mengantarkanku turun melewati tangga.

Aku mengucapkan Terima Kasih kepadaNya, karena dengan waktu yang singkat, aku dapat berbincang denganNya. Ia menenangkanku dan menjawab pertanyaanKu. Lalu aku turun kebawah dan kembali ke duniaku, tepat saat anggur dan roti perjamuan kudus dibagikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s